Kamis, 21 Mei 2020

Cerita2 Lucu

Jawaban Kocak Ujian Anak SD.

Rabu, 18 Desember 2019 13:47  

Hari Kiamat Pasti...

Sebagian besar ujian pasti ada soal pilihan ganda. Baik itu di ranah Sekolah Dasar (SD) ataupun jenjang pendidikan tinggi lainnya. Seperti pada salah satu sekolah dasar yang satu ini. Sayang, jawaban sang murid justru mampu membuat siapa saja tertawa.
 
jawaban kocak ujian anak sd
YouTube @Alingga Putra 2019 Merdeka.com
 
"Hari kiamat pasti...," tanya pada soal itu.
"c. Seru," jawab sang murid yang sukses bikin ngakak.

Bayak Pacar

Biasanya, soal jenis ini yang paling favorit bagi sebagian besar pelajar. Banyaknya pilihan jawaban, sangat memudahkan mereka dalam menjawab. Salah satu contohnya yaitu seperti berikut ini.

jawaban kocak ujian anak sd
YouTube @Alingga Putra 2019 Merdeka.com
 
"Daya tahan tubuh dapat terjaga secara optimal apabila...," tulis pada soal ujian itu.

Namun, sang murid justru menjawab pertanyaan dengan jawabannya sendiri.

"e. Banyak pacar," jawab si murid tak habis pikir. 

Bikin Ngakak

Semakin bertambah usia, jenjang pendidikan juga semakin meningkat. Pelajaran juga semakin bervariasi, mulai dari fisika, kimia hingga ilmu komputer. Mau tidak mau, mereka harus mempelajari semuanya secara serius. Namun, jika otak sudah lelah maka jawaban yang dituliskan akan seperti berikut ini.

jawaban kocak ujian anak sd
YouTube @Alingga Putra 2019 Merdeka.com
 
"RAM adalah R,A dan M. ROM adalah R,O dan M. Perbedaan di hurufnya," jawab si murid yang tak diketahui namanya.

Soal Bahasa Inggris

Bahasa Inggris juga sudah mulai dipelajari bahkan sejak Sekolah Dasar. Tak terlalu berat, saat itu para pelajar akan dikenalkan dengan beberapa kosa kata yang umum digunakan termasuk angka.

jawaban kocak ujian anak sd
YouTube @Alingga Putra 2019 Merdeka.com
 
"10: ten. 100: teen. 1000: teeen. 10000: teeeen. 100000: teeeeen," jawab si murid. Ada-ada saja ya mereka. 
 

Bisikan Tetangga?

Pelajaran agama juga sudah diterapkan sejak anak masuk bangku sekolah dasar. Tentu saja, hal itu akan disesuaikan dengan kapasitas otak si kecil. Alih-alih menjawab dengan benar, murid ini justru memberikan jawaban yang sukses bikin tertawa ngakak.

jawaban kocak ujian anak sd
YouTube @Alingga Putra 2019 Merdeka.com
 
"Dalam surah An-Nas yang suka membisikkan kejahatan adalah...," tulis pada soal ujian.

"a. Tetangga," jawaban kocak si kecil.
 

Rajin Mandi

Tak hanya pilihan ganda, biasanya soal ujian juga memberikan pertanyaan esai. Untuk menjawabnya, para pelajar harus memiliki jawabannya sendiri. Salah satu contohnya seperti terlihat berikut ini.

jawaban kocak ujian anak sd
YouTube @Alingga Putra 2019 Merdeka.com
 
"Agar pandai bernyanyi harus rajin...," tulis dalam soal esai.

Namun, inilah jawaban kocak sang murid 'mandi'. 
  
  

 

Jumat, 05 Desember 2014

The Little Match Girl


The Little Match Girl
(Gadis Penjual Korek Api)

Pengarang: Hans Christian Andersen

Hari itu amat sangat dingin, salju turun, dan hampir cukup gelap, dan malam - malam terakhir tahun ini. Dalam suasana dingin dan gelap ini, seorang gadis kecil yang malang sedang melangkah di sepanjang jalan, tanpa penutup kepala, dan dengan kaki telanjang. Ketika ia meninggalkan rumah ia masih mengenakan sandal, itu benar, tapi apa bagusnya itu? Itu adalah sepasang sandal yang sangat besar, milik ibunya dan sudah terlihat usang, sandal itu sangat besar, dan gadis kecil yang malang itu telah kehilangannya saat dia berusaha keras menyeberang jalan, karena ada dua kereta kuda yang meluncur dengan sangat cepat.

Satu sandal itu tidak bisa ditemukan, yang satunya lagi telah dibiarkan lepas untuk diambil oleh seekor landak, maka berlarilah landak itu dengan sandalnya, dia pikir sandal itu bisa menjadi tempat buaian yang sangat bagus sekali saat dia sudah memutuskan untuk mempunyai anak sendiri. Jadi gadis kecil itu berjalan dengan kaki mungilnya yang telanjang, yang telah terlihat cukup merah dan biru karena kedinginan. Dia membawa banyak sekali korek api yang dibungkus dengan celemek tuanya, dan dia memegang seikat di tangannya. Selama hidupnya tidak ada orang yang mau membeli satupun korek api darinya; tidak ada orang yang mau memberinya bahkan satu sen sekalipun.


Dia melangkah dengan gemetaran karena kedinginan dan kelaparan - suatu gambaran yang amat sangat menyedihkan, gadis kecil yang malang!

Serpihan-serpihan salju menutupi rambutnya yang cukup panjang, yang berderai mengikal dengan indahnya di sekitar lehernya, tetapi tentu saja, dia tidak pernah berpikir tentang itu sebelumnya dan baru sekaranglah dia menyadarinya. Dari semua jendela, lilin-lilin berkilauan, dan tercium aroma angsa panggang yang sangat lezat, agar kalian tahu saja, malam itu adalah Malam Tahun Baru, ya, barulah dia terpikir tentang itu.

Di sebuah sudut yang terbentuk oleh dua rumah, yang mana satu rumah terletak lebih maju dari yang satunya, dia duduk dan langsung meringkuk. Kaki kecilnya ia tarik agar dapat dekat padanya, tapi dia merasa semakin kedinginan dan kedinginan, dan dia tidak berani untuk pulang ke rumah, karena dia belum berhasil menjual satupun korek api dan tidak bisa membawa uang: dia pasti akan dipukuli oleh ayahnya, lagipula di rumah juga dingin, di atas rumahnya hanya ada atap dimana angin dapat berhembus masuk, walaupun celah terbesar di atapnya ditutup dengan jerami dan kain.

Tangan kecilnya hampir mati rasa karena dingin. Oh! Satu batang korek api mungkin dapat memberikannya sejuta kenyamanan, jika saja dia berani mengambil satu korek api dari bundelannya, menggosoknya ke dinding, dan menghangatkan jari-jarinya dengan itu. Dia menarik satu korek api. "Rischt!" berkobarlah apinya, sangat menyala! Itu adalah api yang hangat dan cerah, seperti lilin, sambil mendekatkan tangannya di atasnya: itu adalah cahaya yang indah. Apinya terasa sangat nyata bagi sang gadis kecil seolah-olah dia sedang duduk di depan tungku besi yang besar, dengan kaki yang terbuat dari kuningan mengkilap dan hiasan kuningan di atasnya. Api itu membakar dengan penuh berkah; terasa begitu hangat dan menyenangkan. Gadis kecil itu telah mengulurkan kedua kakinya untuk menghangatkannya juga, tetapi - api kecil itu padam, tungkunya lenyap: hanya ada sisa korek api yang telah terbakar habis di tangannya.

Dia mengusap satu korek lagi di dinding: korek itu menyala dengan terang, dan di mana cahaya itu dekat ke dinding, di sanalah dindingnya menjadi transparan seperti kerudung, sehingga ia bisa melihat ke dalam ruangan. Di atas meja itu terhampar taplak meja yang seputih salju, di atasnya terdapat hiasan porselen yang indah, dan angsa panggang yang mengepul dengan isian apel dan plum kering. Dan hal yang lebih bagus untuk dilihat adalah angsa panggang itu jatuh dari piring, terhuyung-huyung di sekitar lantai dengan pisau dan garpu masih menancap di dadanya, sampai itu berguling ke dekat gadis kecil yang malang, ketika korek apinya padam dan tidak ada lagi yang tersisa kecuali dinding yang tebal, dingin, dan lembab. Dia menyalakan korek yang lain. Sekarang dia sedang duduk di bawah pohon Natal yang paling indah: pohon itu masih lebih besar, dan lebih terhias daripada pohon yang dia lihat melalui pintu kaca di rumah pedagang kaya itu.

Ribuan cahaya menyala di cabang-cabang pohon yang hijau itu, dan gambar-gambar berwarna yang terlihat menyenangkan, seperti yang telah dia lihat di jendela-jendela toko, memandang rendah padanya. Gadis kecil itu mengulurkan tangannya ke arah pohon itu ketika korek apinya padam. Cahaya dari pohon Natal naik lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, dia sekarang melihatnya seolah-olah seperti bintang di surga, satu per satu jatuh ke bawah dan membentuk jejak api yang panjang.

"Seseorang baru saja meninggal!" teriak gadis kecil itu, karena neneknya, satu-satunya orang yang mencintainya, dan sekarang sudah tidak ada lagi, telah mengatakan kepadanya bahwa ketika sebuah bintang jatuh, sebuah jiwa akan naik untuk menghadap Tuhan.

Dia menggosok korek yang lain ke dinding: sekali lagi itu bercahaya, dan dari kilauannya berdirilah neneknya, begitu cerah dan bercahaya, sangat berkilau, dan dengan perasaan penuh cinta.

"Nenek!" teriak gadis kecil itu. "Oh, bawa aku pergi bersamamu selama korek apinya masih menyala! Kau akan lenyap seperti kompor yang hangat, seperti angsa panggang yang lezat, dan seperti pohon Natal yang megah!" Dan dia segera mengusap seluruh korek apinya dengan cepat ke dinding, karena dia ingin memastikan untuk menjaga neneknya agar tetap di dekatnya. Dan korek-korek api itu memberikannya cahaya yang sangat cemerlang yang bahkan lebih terang daripada cahaya di siang hari: tidak pernah sebelumnya nenek itu terlihat begitu cantik dan tinggi. Dia mengambil gadis kecil itu di lengannya, dan keduanya terbang dalam kecerahan dan sukacita yang begitu tinggi, sangat tinggi, dan kemudian di atas mereka tidak merasa kedinginan, atau kelaparan, ataupun kecemasan - mereka sekarang sudah bersama Tuhan.

Tapi di sudut, pada saat fajar yang dingin, duduklah gadis yang malang, dengan pipi kemerahan dan dengan bibir yang tersenyum, bersandar di dinding - membeku sampai mati pada malam terakhir di tahun yang lama. Terbujur kaku bersama dengan korek apinya, yang mana satu bundelan telah dibakar. "Dia ingin menghangatkan diri," kata orang-orang. Tidak ada yang memiliki kecurigaan sedikit pun mengenai hal indah apa yang telah dilihatnya, tak seorang pun pernah bermimpi tentang kemegahan di dalamnya, dimana dengan neneknya dia telah memasuki sukacita tahun baru.
__._,_.___

Selasa, 11 Maret 2014

Tua Tua Keladi


Sebenarnya gue mau cerita tentang kisah dari istri gue yang lagi cek kehamilan di salah satu rumah sakit besar di Jakarta. Dia datang pagi-pagi sekali supaya bisa mendapatkan nomor antrian pertama. Ternyata di sana sudah ada yang antri lebih dulu, jumlahnya sudah ratusan orang.. 

Duh, koq bisa sebanyak itu? Mereka datang dari jam berapa sih?? Rupanya mereka datang dari Subuh.. !!!! Ya ampunnnnn??? Pagi sekali?? apa mungkin ada yang menginap di loket ya?? Seandainya Rumah Sakit sekarang daftarnya pake internet, dan seandainya semua orang udah ga gaptek soal internet, pastinya ga akan sepagi itu mereka harus datang untuk antri.

Gue sempat nyeletuk, koq disini ga ada ibu hamil yang antri ya?? hanya kamu aja !! 
Semuanya orang tua..
Istri gue bilang, nanti di kebidanan pasti banyak..

Gue hanya bisa senyum melihat mereka. Rata-rata mereka pergi dengan istri atau suami mereka. Duh romantisnya… sampe mereka menginjak umur kepala enam, mereka masih bisa dipersatukan bersama-sama.

Hari makin siang, sendangkan istri gue belum dipanggil-panggil juga. Padahal dia sedang berpuasa, karena hari ini adalah cek darah. Dan bagi yang ingin cek darah, maka diwajibkan berpuasa dari malam harinya. Tidak boleh minum sedikitpun.. Duh kasihan juga lihat mereka. Istriku masih muda, tapi kehamilannya sudah tua.. masih bisa bertahan sedikit.. Tapi bagaimana dengan mereka yang sudah jompo.

“Ibu, tadi saya minum sedikit.. Dikiiiiittt… aja koq” ujar seorang kakek.

“Loh koq bapak minum sih?? kan ga boleh !!!” Sahut istrinya yang duduk disampingnya.

“Ga apa-apa, haussss!”. kata bapak tua itu.

“Kakek, nanti kalo ketahuan sama susternya, nanti disuruh puasa lagi loh besok !! kan ga boleh minum sebelum periksa !”. Kata seorang ibu yang ada di dekat mereka.

“Yah, jangan dikasih tau dong..!!” Kata kakek itu.

Lagi-lagi gue tersenyum melihat kelakuan mereka.

Dari kejauhan, ada seorang nenek-nenek, yang kira-kira umurnya sudah 60 tahun. Dia terlihat buru-buru masuk ke kamar kecil.

“Buuuuu, tolong tutup lagi pintunya..!!!” Teriak seorang kakek yang sedang buang air kecil di dalam toilet.
“Upppssss, maaf… saya salah masuk !!!” teriak nenek itu, sambil menutup sebagian matanya..
“Ga apa-apa koq bu, HALAL !!!” teriak kakek itu..

Gue ga bisa menahan ketawa melihat kejadian itu, gue tertawa bersama istri gue…
Saking tertawa terus, gue jadi kebelet kencing.. Gue langsung aja ke WC. Ternyata didalam sudah ada kakek-kakek tua yang sedang menampung air urine (kencing) di dalam sebuah botol tes urine.

Kakek itu setelah selesai kencing, menghampiri istrinya yang sedang menunggu di luar toilet. 
“Bu, koq botolnya masih kosong ya??” Tanya kakek ke nenek.
“Ya ampun ternyata tutup botolnya tidak dibuka !! Ya udah, sana kencing lagi ! 
Jangan lupa dibuka tutupnya !” Jawab nenek.

Kakek itu kencing lagi, dan tidak lama keluar toilet sambil membawa botol yang berisi sedikit urine.
“Nek, ini botolnya.. Ternyata botolnya bocor nek.. cuma sedikit dapetnya..”
Gue yang tau cerita ini langsung tertawa… Dasar tua-tua keladi… !!! 

 

Sepasang suami istri


Sepasang suami istri yang sudah menikah 15 tahun 

Tapi sejak mulai menikah kalo pas lagi maen si suami selalu minta lampu dimatikan..

Berhubung sang istri cinta banget jadi buat dia gak masalah....
pikirnya mungkin suaminya type2 pemalu....
Selama berjalan hampir 15 th berumah-tangga,
lama2 istrinya pun jadi penasaran pingin tahu apa sebabnya sang suami selalu minta lampunya dimatikan kalo lagi 'maen'...
Suatu malam ceritanya pas lagi maen nih.....setelah bergumul selama setengah jam dan hampir klimaks....

si istrinya saking pingin tahu gimana mimik sang suami kalo pas lagi maen...
tiba2 si istrinya mencet tombol yg emang udah dipersiapkan...
Seketika lampu menyala terang benderang...
betapa kagetnya sang istri ngeliat suaminya sedang memakai "ikat pinggang pe**n*s Vibrator"......
Serta merta marahlah sang istri kepada suaminya... dan terjadilah cekcok...

istri : oh...jadi selama ini mas udah bohongin saya ya...
(disertai dengan caci maki...)

suami : sabar dik, jangan teriak2 gitu...kan malu didenger ama tetangga...

istri : selama ini mas itu impoten toh....pantesan kok
setiap maen selalu minta lampunya dimatikan....
(selalu disertai dg caci maki...)

suami : tenang dulu dik...mas akan jelasin... istrinya yg sudah terlalu emosi karena merasa dibohongin, terus mengeluarkan kata2 sumpah serapah...

istri : kalo gini caranya mas, saya minta cerai sekarang juga.....!!!!

sang suami dengan tanpa rasa bersalah menjawab...

suami : cerai ya cerai dik....cuman mas mau tanya....itu 2 anak kita asalnya darimana...????

istri : @%*&()t8^%*>........ 


  

Jumat, 16 Agustus 2013

Kumpulan Cerita 16 Agt 2013


1. Cara Cepat Naik Gaji
Dewi, karyawan cantik berpayudara besar datang keruangan bos nya untuk meminta naik gaji.
Dewi: "Pak, saya minta naik gaji dong..." (sambil mendekatkan dadanya ke muka bosnya)
Bos: "Gak bisa! Kamu kerjaannya malas!" (tapi sambil melirik ke dada Dewi)
Dewi: "Kalo dinaikin 50 ribu, saia buka kancing 1 pak..." (sambil memegang kancingnya siap membuka)
Bos: (mikir cuma 50 ribu|) "Okelah buka 1 kancing..."
(Dewi membuka satu kancing)
Dewi: "Mau 1 kancing lagi pak?? Jadi tambah 100 ribu..."
Boss: (makin penasaran dan deg-degan) "Boleh lah 100 ribu..."
Dewi: "Tanggung lho pak 2 kancing lagi..."
(Boss tambah penasaran dan keringat dingin melihat dada Dewi)
Boss: "Ada berapa kancing baju kamu? Buka semua!!"
(Lalu Dewi membuka kancing-kancing bajunya)
Dewi: "Ada 4 pak jadi nambah 200 ribu ya, tuh udah liat kan... Makasih ya Pak..." (lalu Dewi berjalan ke arah pintu keluar)
Boss: "Lho, mau kemana kamu? Kancingin dulu baju kamu sebelum keluar... Apa kata orang, kalo kamu keluar dari ruangan saya kancingnya lepas gitu?"
Dewi: "Kalau mau saya kancingin, 1 kancingnya naik 1 juta pak..."
--------------------------------------------------------------------------------
2. Apakah TUHAN menginap dirumah?
Joe kecil: "Mama, apakah Tuhan menginap di rumah kita?"
Mama: "Tentu tidak, Nak, Tuhan itu tempatnya di Surga, Sayang..."
Joe kecil: "Tapi, ma..."
Mama: "Apalagi joe?"
Joe kecil: "Kemarin sore joe dengar suara papa di kamar pembantu katanya ngomong gini: 'Oh Tuhan..,tubuh kamu bagus bangeett...'"
Mama : "SIALAN !!Golok mana golok ?!?!"
--------------------------------------------------------------------------------
3. Menikah dengan Tentara
Wati menikah dengan seorang Tentara, sedangkan adiknya Wita menikah dengan seorang Polisi. Tapi Wati dan Wita sering curhat mengeluh tentang urusan ranjang.
Suatu saat, di dalam kamar Wati memprotes suaminya: "Kenapa sih Mas, cepet banget keluarnya. Aku kan msh pengen..!!!"
Sang Suami dengan tegas dan lantang menjawab: "Aku ini tentara Dik, jadi sekali keluarkan senjata langsung tembak. Apalagi dalam keadaan sudah terjepit!! Ingat Filosofi tentara kill or be to killed, jadi gak boleh keduluan."
Di kamar lain Wita juga memprotes Suaminya: "Kenapa sih Mas, lama banget keluarnya. Dengkulku sampai mau copot, capeeeek.... deeeh..."
Sang suami dengan sigap menjawab: "Aku ini polisi Dik.. Walau senjata sudah diacungkan, tapi menembak itu tindakan paling akhir kalau tidak ada alternatif lain, jangan sampai melanggar HAM!!! Ingat Dik, filosofi polisi fight crime, love humanity, help delinquent, jadi tak boleh nembak sembarangan...! Sabar yaa Dik.."
--------------------------------------------------------------------------------
4. Coblos
Di toilet pria:
Obed : "Bro, kenapa barang lo ujung nya biru lebam gitu?"
Yongki : "Bini gue, Bro..."
Obed : "Gile... diapain bro ampe biru gitu...???"
Yongki : "Ga diapa-apain, diolesin tinta Pilkada... katanya supaya ngga nyoblos lagi ditempat lain..."
--------------------------------------------------------------------------------
5. Rambu rambu yang paling dipatuhi
Di gerbang sebuah kompleks ada rambu bertuliskan:
"AWAS PELAN-PELAN, BANYAK PENYEBERANG JALAN..!!!"
Tapi pengendara tetap saja ngebut jalannya...
Karena rambu tersebut tidak dipatuhi pengendara maka pak RT membuat rambu yang lain lagi:
"AWAS PELAN-PELAN BANYAK ANAK-ANAK..!!!"
Ternyata rambu itupun tak diindahkan juga...
Namun pak RT gak kurang akal, dipasangnya rambu baru dengan tulisan:
"AWAS PELAN-PELAN, BANYAK PEREMPUAN TELANJANG..!!!"
Dan ternyataaaaaa...
Sejak rambu itu dipasang, tidak ada lagi yang berani ngebut dijalan. Bahkan mereka terlihat sangat sopan dan waspada, mereka selalu melihat kekiri dan kanan... celinglak-celinguk ketika berjalan...

__._,_.___

Jumat, 12 Juli 2013

Tak Perlu Ajari Kami Berpuasa



Hari ke tiga di bulan ramadhan saya berkesempatan menumpang becak menuju rumah ibu. Sore itu, tak biasanya udara begitu segar, angin lembut menerpa wajah dan rambutku. Namun kenikmatan itu tak berlangsung lama, keheninganku terusik dengan suara kunyahan dari belakang, "Abang becak ...?"

Ya, kudapati ia tengah lahapnya menyuap potongan terakhir pisang goreng di tangannya. Sementara tangan satunya tetap memegang kemudi. "Heeh, puasa-puasa begini seenaknya saja dia makan ...," gumamku.

Rasa penasaranku semakin menjadi ketika ia mengambil satu lagi pisang goreng dari kantong plastik yang disangkutkan di dekat kemudi becaknya, dan ... untuk kedua kalinya saya menelan ludah menyaksikan pemandangan yang bisa dianggap tidak sopan dilakukan pada saat kebanyakan orang tengah berpuasa.

"mmm ..., Abang muslim bukan? tanyaku ragu-ragu.

"Ya dik, saya muslim ..." jawabnya terengah sambil terus mengayuh

"Tapi kenapa abang tidak puasa? abang tahu kan ini bulan ramadhan. Sebagai muslim seharusnya abang berpuasa. Kalau pun abang tidak berpuasa, setidaknya hormatilah orang yang berpuasa. Jadi abang jangan seenaknya saja makan di depan banyak orang yang berpuasa ..." deras aliran kata keluar dari mulutku layaknya orang berceramah.

Tukang becak yang kutaksir berusia di atas empat puluh tahun itu menghentikan kunyahannya dan membiarkan sebagian pisang goreng itu masih menyumpal mulutnya. Sesaat kemudian ia berusaha menelannya sambil memperhatikan wajah garangku yang sejak tadi menghadap ke arahnya.

"Dua hari pertama puasa kemarin abang sakit dan tidak bisa narik becak. Jujur saja dik, abang memang tidak puasa hari ini karena pisang goreng ini makanan pertama abang sejak tiga hari ini."

Tanpa memberikan kesempatan ku untuk memotongnya,

"Tak perlu ajari abang berpuasa, orang-orang seperti kami sudah tak asing lagi dengan puasa," jelas bapak tukang becak itu.

"Maksud bapak?" mataku menerawang menunggu kalimat berikutnya.

"Dua hari pertama puasa, orang-orang berpuasa dengan sahur dan berbuka. Kami berpuasa tanpa sahur dan tanpa berbuka. Kebanyakan orang seperti adik berpuasa hanya sejak subuh hingga maghrib, sedangkan kami kadang harus tetap berpuasa hingga keesokan harinya ..."

"Jadi ...," belum sempat kuteruskan kalimatku,

"Orang-orang berpuasa hanya di bulan ramadhan, padahal kami terus berpuasa tanpa peduli bulan ramadhan atau bukan ..."

"Abang sejak siang tadi bingung dik mau makan dua potong pisang goreng ini, malu rasanya tidak berpuasa. Bukannya abang tidak menghormati orang yang berpuasa, tapi..." kalimatnya terhenti seiring dengan tibanya saya di tempat tujuan.

Sungguh. Saya jadi menyesal telah menceramahinya tadi. Tidak semestinya saya bersikap demikian kepadanya. Seharusnya saya bisa melihat lebih ke dalam, betapa ia pun harus menanggung malu untuk makan di saat orang-orang berpuasa demi mengganjal perut laparnya. Karena jika perutnya tak terganjal mungkin roda becak ini pun tak kan berputar ...

Ah, kini seharusnya saya yang harus merasa malu dengan puasa saya sendiri? Bukankah salah satu hikmah puasa adalah kepedulian? Tapi kenapa orang-orang yang dekat dengan saya nampaknya luput dari perhatian dan kepedulian saya?

"Wah, nggak ada kembaliannya dik..."

"hmm, simpan saja buat sahur bapak besok ya ..."

Selamat berpuasa utk saudara2 ku yg muslim.

--.--.--.--





__._,_.___

Kamis, 18 April 2013

Kisah Ayahku


Kisah Ayahku,

Seorang Penjual Tahu Yang Tunawicara

Diterjemahkan Oleh: Susiany
 
Kisah nyata yang sangat menyentuh perasaan
Tempat kejadian di kota Tie Ling , provinsi Liao Ning utara , China. 
 
Di suatu sudut di ujung jalan di dalam kota Tie Ling ......hampir setiap pagi atau senja, orang2 akan melihat seorang laki-laki tua dengan perlahan-lahan mendorong gerobak tahu dagangannya .
Dari corong pengeras suara terdengar suara merdu dan jernih seorang gadis. Tahu.. tahu ... tahu asin.....!
Tahu... tahu.... , itulah suaraku dan laki-laki tua pedagang tahu itu adalah ayahku. Ayahku adalah seorang tunawicara atau bisu.
Setelah aku berusia duapuluhan, barulah aku mempunyai keberanian untuk menaruh rekaman suaraku di gerobak dorong tahu jualan ayahku untuk menggantikan suara keliningan yang telah dia pergunakan selama puluhan tahun.
Saat aku berusia 2-3 tahun, aku sudah merasakan betapa memalukan mempunyai seorang ayah yang bisu, sehingga dari kecil aku telah membencinya. Saat itu aku melihat anak-anak kecil yang ikut ibunya membeli tahu dagangan ayahku, mereka mengambil lalu lari tanpa membayarnya. Ayahku hanya dapat menjulurkan leher tanpa dapat menyuarakan apapun. Aku tidak seperti kakak sulungku yang langsung mengejar dan memukul anak-anak tersebut .
Saat itu aku sedih sekali melihat kejadian tersebut dan hanya dapat berdiam diri saja. Herannya aku tidak membenci anak-anak tersebut, malah sebaliknya membenci ayahku yang bisu itu .
 Meskipun ketika kedua abangku membantu menyisir rambutku dan membuatku sakit, aku tetap tidak mengizinkan ayahku mengepang kuncir kecilku.
Saat ibu wafat, beliau tidak meninggalkan foto dirinya yang cukup besar, hanya selembar foto berukuran 2 inci hitam putih bersama dengan tetangganya sebelum dia menikah. Di saat aku sedang sebal terhadap ayah, maka ayahku akan memandangi foto ibuku dengan berdiam diri, memandangi tanpa berhenti sampai dia harus mulai bekerja lagi, baru pergi meninggalkan foto tersebut .
Aku paling jengkel bila anak-anak lain memanggilku dengan "anak ketiga si bisu ". Saat itu aku tidak dapat melawan mereka, maka aku hanya akan berlari pulang ke rumah menghadap ayah yang sedang mendorong penggilingan tahu. Aku kemudian membuat sebuah lingkaran di atas tanah lalu meludah di tengah2 nya.
 Walaupun aku tidak mengerti apa artinya hal itu , namun aku sering melihatnya di saat anak-anak tersebut mengejek ayahku melakukan hal yang serupa. Maka kesimpulanku inilah ejekan yang paling sadis untuk seorang bisu.
 Pertama kali aku mengejek ayahku dengan cara ini, ayah segera menghentikan pekerjaannya dan lama berdiam memandangi diriku dan air matanya mengalir dengan deras. Aku jarang melihat dia menangis, tetapi hari itu dia bersembunyi di ruang pembuatan tahu dan menangis semalam suntuk. Itulah sebuh tangisan TANPA SUARA. Ketika melihat ayah menangis, barulah aku merasa puas karena memperoleh pelampiasan atas segala rasa hina yang aku terima selama ini.
 Sejak saat itu aku sering berlari di depannya , mengejeknya lalu meninggalkannya seorang diri. Namun saat-saat itu ayahku sudah tidak menangis lagi, tubuhnya yang kurus hanya meringkuk dan menyandarkan diri di kayu atau di meja penggilingan tahu. Mimik wajahnya justeru membuat aku lebih merasa hina.
 Aku kemudian memutuskan untuk belajar dengan giat dan baik, masuk universitas dan meninggalkan desa ini, dimana semua orang tahu bahwa ayahku adalah si bisu yang memalukan itu. Inilah harapan dan cita-citaku saat itu.
Aku tidak tahu kalau semua abangku sudah berkeluarga, aku juga tidak tahu bagaimana keadaan bisnis tahu ayahku. Demikian juga aku tidak tahu berapa musim telah berlalu seperti juga berapa kampung dan desa bunyi keliningan itu mengelilinginya.
 Aku memacu diriku dengan rajin belajar secara mati-matian dan bersikap keras terhadap diriku sendiri, sehingga achirnya aku berhasil diterima di sebuah universitas.
 Di suatu senja di musim gugur tahun 1992, untuk pertama kalinya aku melihat ayahku memakai baju berwarna biru yang dibuat bibiku pada tahun 1977. Sambil duduk di bawah lampu dengan penuh perasaan gembira dan penuh rasa hormat dan hati-hati dia memberikan setumpuk uang yang masih terasa bau tahu ke dalam tanganku. Mulutnya tidak henti-hentinya bergumam.
Aku terhenyak mendengar rasa bangga dan kehangatan darinya. Terhenyak melihatnya tersenyum bangga dan penuh kepuasan ketika memberitahu keberhasilsanku kepada para tetangga dan famili.
Demikan juga saat aku melihat ayahku bersama paman kedua dan abangku menggelandang keluar seekor babi yang gemuk dan besar untuk disembelih dan mengundang seisi kampung untuk merayakan keberhasilanku masuk ke universitas .
 Aku tidak tahu faktor apa yang menyentuh lubuk hatiku yang keras itu.... sehingga tanpa terasa aku menitikkan air mata, aku MENANGIS.
 Saat makan bersama, di hadapan para tamu aku mengambilkan beberapa potong daging ke dalam mangkoknya. Sambil menangis aku berkata AYAH, AYAH makan dagingnya ya! Ayah pasti tidak dapat mendengarnya, namun aku yakin dia pasti mengerti apa maksudku. Dari sorot matanya aku melihat secercah sinar yang tidak pernah terpancarkan sebelumnya.
 Air matanya bercampur dengan arak Gao Liang (Gandum) yang diteguknya sambil mengunyah daging yang diambilkan ke piring oleh puteri tercintanya. Ketika itu ayahku benar-benar mabuk penuh kegembiraan, rona wajahnya merah sekali, pinggangnya begitu tegak , dan bahasa tubuhnya pun tampak begitu indah dan elegan.
 Mau tahu apa sebabnya? Selama delapanbelas tahun, aku ulangi selama delapanbelas tahun dia belum pernah mendengar aku memanggilnya ayah! 
 Dengan susah payah, ayah tetap menjalankan usaha tahunya agar dapat membiayai kuliahku dengan lembaran-lembaran uang yang masih terasa aroma bau tahunya sehingga aku berhasil menyelesaikan kuliahku. 
 Tahun 1996 aku lulus dan ditugaskan di kota yang berjarak 40 km dari kampung halamanku. Setelah semua urusannya beres, aku menjemput ayahku yang selama ini hidup sendiri untuk menikmati sisa hidupnya di kota bersamaku. 
Namun apa mau dikata, saat dalam perjalanan pulang ke kampung halamanku, terjadilah kecelakaan ini......
Dari kakak iparkulah achirnya aku tahu apa sebenarnya yang menimpa diriku saat itu. 
Diantara kerumunan orang yang menyaksikan kecelakaan itu ada yang mengenaliku adalah anak ketiga dari ayah bisuku. Kedua abangku beserta istrinya tiba, melihat diriku yang sudah tidak sadarkan diri, mereka menjadi kalang kabut. Yang terakhir datang adalah ayahku ..... Dia menyeruak dari kerumunan orang banyak, menggendongku yang sudah dianggap pasti mati oleh orang-orang yang menyaksikan dan menyetop sebuah kendaraan. Ayah menopang tubuhku dengan kedua kakinya, merogoh saku kantong dan mengeluarkan segepok uang receh hasil penjualan tahu dan menjejalkannya kedalam tangan si supir dan memohon kepadanya unit untuk menghantarkan aku ke rumah sakit.
Menurut kakak iparku, ayahku yang bagitu ringkih saat itu menjelma menjadi begitu bertenaga dan tabah.
Setelah luka-lukaku dibersihkan, dokter meminta untuk dipindahkan ke rumah sakit lain,  mamberitahu ke abangku bahwa aku sudah tidak mempunyai harapan lagi untuk hidup .
Keadaanku saat itu, tekanan darahku sudah hampir tidak terukur, dan kepalaku luka parah dan bengkak.
Ayahku merobek "baju berkabung" yang telah dibeli oleh abangku dalam ke terputuasaannya. Ayah menunjuk matanya sendiri dengan ibu jarinya, kemudian menunjuk ke aku, menjulurkan ibu jarinya lagi, menggoyang-goyang kan tangan lalu menutup matanya. Artinya adalah: kalian jangan menangis, saya aja tidak menangis, maka kalian jangan menangis. Adik perempuanmu tidak akan meninggal, dia baru berusia dua puluh tahunan, dia pastinya dapat bertahan, kita pasti dapat menolongnya.
Dokter tetap dengan pendiriannya, dia meminta abangku untuk memberitahu ayahku. Bahwa, anak gadismu ini tidak dapat ditolong lagi, seandainya mau ditolongpun juga harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit jumlahnya, ... meskipun demikian juga belum tentu tertolong .
Ayahku bersujud di lantai, kemudian berdiri lagi, menunjuk ke aku, mengacung-acungkan  tangannya, dengan bahasa tubuhnya membuat gerakan bercocok tanam, memotong rumput, memelihara babi, mendorong penggilingan, dengan gaya-gaya tersebut ..... kemudian mengeluarkan sakunya yang sudah kosong, kemudian memasukkannya lagi.
Artinya adalah : saya mohon, tolonglah putriku, putriku sangat potensial sekali, kalian harus menolongnya, ... Saya akan mengumpulkan uang untuk membayar semua ongkos-ongkos rumah sakit, dengan babi-babiku, bercocok tanam, membuat tahu. Saya punya uang, sekarang saya punya Empat Ribu yuan! Dokter memegang erat tangannya, menggeleng-gelengkan kepala, memberi isyarat bahwa uang ini masih jauh dari mencukupi .
Ayahku gusar sekali, dia menunjuk abangku, kakak iparku, mengepalkan tinjunya mengisyaratkan bahwa kami dapat berusaha bersama, kami pasti dapat melakukannya. Melihat Dokter diam saja, maka ayah menunjuk-nunjuk platfon, menjejakkan kaki di lantai, menangkupkan kedua tangannya, ditaruhnya dipelipis kanan sambil memejamkan mata. Yang berarti: saya punya rumah, bisa dijual, saya bisa tidur dilantai .... sekalipun saya bangkrut, saya juga harus berjuang untuk kehidupan anak gadisku .
Lalu menunjuk Dokter sambil menangkupkan kedua tangannya, artinya Dokter jangan kuatir kita tidak akan mengingkari janji ... soal biaya kami akan berusaha untuk mendapatkannya.
Abang tertuaku sambil menangis menjelaskan arti dari bahasa tubuh ayahku ke Dokter tersebut.
Belum sampai selesai menjelaskannya ,Dokter yang telah terbiasa menghadapi pasien-pasien yang sedang sekarat, kali ini tidak kuasa menahan airmatanya yang telah memenuhi seluruh wajahnya.
Melihat gerakan tangan ayahku, saat memperagakan dan mengutarakan maksudnya, siapa pun yang menyaksikannya pasti akan meneteskan airmata.
Kemudian sang Dokter berkata, sekalipun telah dilakukan tindakan operasi, juga belum tentu dapat tertolong nyawanya.
Ayahku menepuk-nepuk kantong sakunya dan menepuk-nepuk dadanya, yang berarti: Kalian harus berusaha sekuat tenaga, seandainya gagal sekalipun saya akan tetap membayarnya dan tidak akan complain.
Cinta yang sangat agung dan tulus dari seorang ayah ..... tidak saja menopang hidupku, namun juga menopang dan menyemangati sang Dokter dalam keyakinannya untuk mengoperasiku.
Aku dibawa masuk kedalam ruang operasi .... ayah menungguiku di luar kamar operasi sambil mondar mandir dengan gelisah .... sampai sol sepatunya robek.
Ayah tidak meneteskan setitik airmata pun, namun dalam penantian selama lebih kurang sepuluh jam itu seluruh mulutnya muncul gelembung-gelembung kecil. Dengan tidak henti-hentinya ayah berdoa kepada Thian, mohon diberikan kesembuhan dan kesempatan untuk hidup lagi bagi putrinya. Rupa-rupanya Thian pun tersentuh hatinya atas ketulusan ayahku ..... dan aku terselamatkan!
Selama setengah bulan aku dalam keadaan koma dan tidak tahu sama sekali apa yang menimpa diriku. Aku telah menjadi " manusia pohon " .... semua orang telah kehilangan keyakinan bahwa aku akan dapat sadar kembali. Hanya ayah yang dengan setianya menungguiku di samping ranjangku, dengan suatu keyakinan bahwa aku pasti akan sadar kembali. Dengan jari-jari tangannya yang kasar ayah memijatiku dengan sangat hati-hati ..... Dan dengan suara yang tidak jelas dia terus menerus memanggil-manggil namaku ... Dia memanggil : YOEN YA DAO ! YOEN YA DAO ! (anak gadis YOEN ), sadarlah! Ayah menungguimu, minumlah air susu kacang yang baru kubuat ini .......
Supaya para Dokter dan perawat memperhatikanku, maka saat abangku menggantikan ayah untuk menungguiku, maka ayah membuat tahu ..... Dan masih dalam keadaan baru dan panas, dibagikannya kepada para perawat dan juga karyawan yang ada dalam rumah sakit itu.
Walaupun ada peraturan dalam rumah sakit itu tidak boleh menerima barang pemberian dari keluarga pasien, namun menghadapi ketulusan, kejujuran dan keluguan dari sikap ayahku itu, maka merekapun menerimanya. Ayahku puas sekali dan makin menambah keyakinannya bahwa aku pasti sembuh. Ayah berbicara dengan bahasa tubuhnya kepada karyawan di rumah sakit itu: "Kalian adalah orang baik dan hebat! Saya sangat yakin bahwa kalian pasti dapat menyembuhkan putriku". 
Dalam kurun waktu itu, untuk mengumpulkan biaya rumah sakit, ayah menjajaki semua kampung-kampung dan desa-desa di mana dia pernah menjual tahunya ...... Dengan reputasinya, di mana orang-orang mengenal kebaikan, kejujurannya ..... maka ayah memperoleh banyak dukungan untuk memperkuat semangatnya untuk menyelamatkan nyawa putrinya yang masih dalam keadaan antara hidup dan mati.
Para tetanggga, kawan-kawan dan sahabatnya dengan sukarela membantu menyisihkan uang ....... Dan ayahku pun tidak ceroboh, dia mencatatnya dengan seksama nama-nama penyumbang itu: 
- Chang San 20 yuan 
- Li Kang 100 yuan 
- Ny Wang 65 yuan 

Suatu pagi setelah aku koma selama setengah bulan, achirnya aku dapat membuka mata! Yang kulihat adalah seorang tua yang sangat kurus, ayah membuka mulutnya lebar-lebar karena terperanjat .....
sangat girang melihat aku mendusin dan ayah menggumam tak karuan. Uban yang ada dikepalanya dengan cepat menjadi basah oleh keringat karena keharuannya ...
Ayahku, yang setengah bulan yang lalu masih belum beruban, sekarang menjadi sangat tua sekali, rambutnya penuh dengan uban putih dan tampak duapuluh tahun lebih tua dari usia sebenarnya ....
Rambut dikepalaku yang botak sudah mulai tumbuh kembali ..... ayahku membelainya dengan penuh kasih sayang ..... Dulu sekali belaian semacam ini adalah suatu kemewahan yang diharapkan olehnya .... karena selalu aku menolak saat ayah mau melakukannya. Enam bulan kemudian rambutku sudah mulai dapat dikepang! Aku meraih lengan ayahku dan membiarkannya menyisir rambutku ......
Ayah menjadi canggung sekali .... Ayah menyisirnya dengan pelan-pelan, namun ayah tidak dapat menyisirnya dengan baik ...... maka aku mengikat rambutku asal- asalan saja dan naik ke gerobak dorong yang telah dirubah menjadi sebuah kereta kecil.
Pernah sekali ayah menghentikan keretanya, menghampiriku dan membuat gerakan seolah-olah mau menggendongku, lalu kemudian membuat gerakan mau melemparku ..... kemudian membuat gerakan seperti menghitung uang! Ternyata dia mau menjualku seperti tahu yang dijualnya ......
Tentunya ayah bercanda, maka akupun menutup wajahku sambil menangis, maka ayah akan tersenyum tanpa suara ....... Dan aku mengintip melalui sela-sela jari tanganku, melihatnya tertawa sambil berjongkok dilantai. Permainan ini ayah lakukan sampai aku dapat berdiri dan berjalan lagi ...
Selain kepalaku yang masih kadang-kadang sakit, selepas itu aku sangat sehat .... Kami bekerja keras bersama-sama untuk melunasi pinjaman kami ..... Dan achirnya ayah ikut aku pindah ke kota dan hidup bersamaku.
Berhubung ayah sudah terbiasa kerja, maka beliau tidak dapat berdiam diri ... maka aku menyewa sebuah rumah kecil untuk ayah membuat usaha tahunya. Tahu buatan ayahku sangat enak, harum, empuk dan potongannya cukup besar sehingga pembeli suka sekali menyantapnya! 
Aku memasangkan alat pengeras suara di gerobak dagangannya, walaupun ayah tidak dapat mendengar suara nyaringku, namun beliau paham apa artinya! Begitu ayah memencet tombol itu, maka dengan bangganya ayah mengangkat kepalanya dan dari wajah tuanya terpancar suatu kepuasan dan kebahagiaan.
Bila aku mengingat dulu betapa aku sering menghina dan mengejeknya, namun beliau tidak pernah mendendam sama sekali ..... sehingga akupun tidak tega untuk menyatakan penyesalanku.
Aku sering berpikir: Seandainya bila semua INSAN dibumi ini penuh dengan music SYMPHONI CINTA kami dapat mendengarkannya, menyimaknya, merasakannya, tergetar kalbu kita ....... Namun bagi ayahku yang bisu itu, membuatku memahami dan mengerti bahwa sebenarnya MUSIC yang paling indah dan dahsyat itu adalah KEHENINGAN tanpa SUARA. Itu adalah KEKUATAN terdahsyat yang tidak terbantahkan kekuatannya ..... menghantarkan pemahamanku tentang CINTA ke tempat posisi yang tertinggi.
Marilah kita saling bersilahturami dan bersahabat secara tulus dan ichlas ..... oleh karena dalam hidup ini kita sulit dan jarang mendapatkan, menemukan persahabatan yang SEJATI.
Marilah kita berbuat lebih baik lagi terhadap orang tua kita , karena setelah waktu berlalu maka yang tertinggal adalah KENANGAN 
Marilah kita lebih TULUS lagi terhadap pasangan, karena setelah waktu berlalu tidak mungkin lagi dapat berjalan bersama sambil bergandengan tangan.
Marilah kita lebih memperhatikan perkembangan anak kita, karena setelah waktu berlalu maka kita tidak dapat lagi MEMELUK dan MERANGKULNYA.
Marilah dalam setiap PERTEMUAN, kesempatan kita untuk bersilahturami dengan TULUS TANPA PAMRIH ..... menyatakan rasa berterimakasih dan bersyukur! 
Biarkanlah setiap detik, setiap saat yang kita temui adalah KETULUSAN. Karena ..... sekali lagi karena ..... setelah waktu berlalu ..... Maka semua ini tidak mungkin akan terjadi lagi .......
 
.............. Selesai ............

 

Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan kepadaku , dan maaf bila ada yang kurang sempurna dalam pemilihan kata - kata dan rangkaian kalimat . 

 

Minggu, 28 Oktober 2012

ANAK DURHAKA


"KISAH NYATA ANAK DURHAKA DARI SINGAPURA"  

Pasti sudah ada yang membacanya, tapi bagi yang belum semoga kisah ini menjadi pelajaran iman dan moral bagimu.

Sebuah Kisah Nyata dari Negeri tetangga Singapura beberapa dekade lalu yang cukup menghebohkan hingga Perdana Menteri saat itu, Lee Kwan Yew senior turun tangan dan mengeluarkan dekrit tentang orang lansia di Singapura.

Dikisahkan ada orang kaya raya di sana mantan Pengusaha sukses yang mengundurkan diri dari dinia bisnis ketika istrinya meninggal dunia. Jadilah ia single parent yang berusaha membesarkan dan mendidik dengan baik anak laki-laki satu-satunya hingga mampu mandiri dan menjadi seorang Sarjana.

Kemudian setelah anak tunggalnya tersebut menikah, ia minta ijin kepada ayahnya untuk tinggal bersama di Apartemen Ayahnya yang mewah dan besar. Dan ayahnya pun dengan senang hati mengijinkan anak menantunya tinggal bersama-sama dengannya. Terbayang dibenak orangtua tersebut bahwa apartemen nya yang luas dan mewah tersebut tidak akan sepi, terlebih jika ia mempunya cucu. Betapa bahagianya hati bapak tersebut bisa berkumpul dan membagi kebahagiaan dengan anak dan menantunya.

Pada mulanya terjadi komunikasi yang sangat baik antara Ayah-Anak-Menantu yang membuat Ayahnya yang sangat mencintai anak tunggalnya itu tersebut tanpa sedikitpun ragu-ragu mewariskankan seluruh harta kekayaan termasuk apartment yang mereka tinggali, dibaliknamakan ke anaknya itu melalui Notaris terkenal di sana.

Tahun-tahun berlalu, seperti biasa, masalah klasik dalam rumah tangga, jika anak menantu tinggal seatap dengan orang tua, entah sebab mengapa akhirnya pada suatu hari mereka bertengkar hebat yang pada akhirnya, anaknya tega mengusir sang Ayah keluar dari apartment mereka yang ia warisi dari Ayahnya.

Karena seluruh hartanya, Apartemen, Saham, Deposito, Emas dan uang tunai sudah diberikan kepada anaknya, maka mulai hari itu dia menjadi pengemis di Orchard Rd. Bayangkan, orang kaya mantan pebisnis yang cukup terkenal di Singapura tersebut, tiba-tiba menjadi pengemis!

Suatu hari, tanpa disengaja melintas mantan teman bisnisnya dulu dan memberikan sedekah, dia langsung mengenali si ayah ini dan menanyakan kepadanya, apakah ia teman bisnisnya dulu. Tentu saja, si ayah malu danmenjawab bukan, mungkin Anda salah orang, katanya. Akan tetapi temannya curiga dan yakin, bahwa orang tua yang mengemis di Orchad Road itu adalah temannya yang sudah beberapa lama tidak ada kabar beritanya. Kemudian, temannya ini mengabarkan hal ini kepada teman-temannya yang lain, dan mereka akhirnya bersama-sama mendatangi orang tersebut. Semua mantan sahabat karibnya tersebut langsung yakin bahwa pengemis tua itu adalah Mantan pebisnis kaya yang dulu mereka kenal.

Dihadapan para sahabatnya, si ayah dengan menangis tersedu-sedu, menceritakan semua kejadian yang sudah dialaminya. Maka, terjadilah kegemparan di sana, karena semua orangtua di sana merasa sangat marah terhadap anak yang sangat tidak bermoral itu.

Kegemparan berita tersebut akhirnya terdengar sampai ke telinga PM Lee Kwan Yew Senior.

PM Lee sangat marah dan langsung memanggil anak dan menantu durhaka tersebut. Mereka dimaki-maki dan dimarahi habis-habisan oleh PM Lee dan PM Lee mengatakan "Sungguh sangat memalukan bahwa di Singapura ada anak durhaka seperti kalian" .

Lalu PM Lee memanggil sang Notaris dan saat itu juga surat warisan itu dibatalkan demi hukum! Dan surat warisan yang sudah baliknama ke atas nama anaknya tersebut disobek-sobek oleh PM Lee. Sehingga semua harta milik yang sudah diwariskan tersebut kembali ke atas nama Ayahnya, bahkan sejal saat itu anak menantu itu dilarang masuk ke Apartment ayahnya.

Mr Lee Kwan Yew ini ternyata terkenal sebagai orang yang sangat berbakti kepada orangtuanya dan menghargai para lanjut usia (lansia). Sehingga, agar kejadian serupa tidak terulang lagi, Mr Lee mengeluarkan Kebijakan / Dekrit yaitu "Larangan kepada para orangtua untuk tidak mengwariskan harta bendanya kepada siapapun sebelum mereka meninggal. Kemudian, agar para lansia itu tetap dihormati dan dihargai hingga akhir hayatnya, maka dia buat Kebijakan berupa Dekrit lagi, yaitu agar semua Perusahaan Negara dan swasta di Singapura memberi pekerjaan kepada para lansia. Agar para lansia ini tidak tergantung kepada anak menantunya dan mempunyai penghasilan sendiri dan mereka sangat bangga bisa memberi angpao kepada cucu-cucunya dari hasil keringat mereka sendiri selama 1 tahun bekerja.

Anda tidak perlu heran jika Anda pergi ke Toilet di Changi Airport, Mall, Restaurant, Petugas cleaning service adalah para lansia. Jadi selain para lansia itu juga bahagia karena di usia tua mereka masih bisa bekerja, juga mereka bisa bersosialisasi dan sehat karena banyak bergerak. Satu lagi sebagaimana di negeri maju lainnya, PM Lee juga memberikan pendidikan sosial yang sangat bagus buat anak-anak dan remaja di sana, bahwa pekerjaan membersihkan toilet, meja makan diresto dsbnya itu bukan pekerjaan hina, sehingga anak-anak tsb dari kecil diajarkan untuk tahu menghargai orang yang lebih tua, siapapun mereka dan apapun profesinya.

Sebaliknya, Anak di sana dididik menjadi bijak dan terus memelihara rasa hormat dan sayang kepada orangtuanya, apapun kondisi orangtuanya.

Meskipun orangtua mereka sudah tidak sanggup duduk atau berdiri,atau mungkin sudah selamanya terbaring diatas tempat tidur, mereka harus tetap menghormatinya dengan cara merawatnya.

Mereka, warganegara Singapura seolah diingatkan oleh PM Lee agar selalu mengenang saat mereka masih balita, orangtua merekalah yang membersihkan tubuh mereka dari semua bentuk kotoran, juga yang memberi makan dan kadang menyuapinya dengan tangan mereka sendiri, dan menggendongnya kala mereka menangis meski dini hari dan merawatnya ketika mereka sakit. 

  
 
Yusof bin Ishak Orang Keturunan Indonesia Yang Menjadi Presiden Pertama Singapura
http://en.wikipedia.org/wiki/Yusof_bin_Ishak

------------------------
 

Sabtu, 09 Juni 2012

Om Hans

Om Hans sedang melancong ke Singapore, suatu hari dia lewat ke Little India.

Di ujung jalan dia lihat seorang India yg sedang duduk sambil elus2 Kumisnya yg lumayan panjang. Merasa baru sekali ini dia melihat kumis yg panjang dan terawat, dia tertarik untuk mendekat.

"Sir, this is the first time I ever saw a person with a very long and neat Moustache. May I touch it?"

"Oh sure...sure.." (sambil geleng2 kepala)

Timbul ide untuk membeli satu rambut dari kumis India ini sebagai Suvenir.
"With your permission, may I buy one hair of Your Moustache for a Souvenir?"

"Oh sure..sure Sir. For $5 You can get it."

Ah, murah amat..dia piara tuh kumis aja udah berapa tahun.
Akhirnya Om Hans keluarkan $5 buat si India.

Kemudian sejenak si India berdiri...sambil ngendorin celananya dia masukkan tangan ke dalam Celana dalamnya... Tuuiing... dicabutnya satu bulu dan diberikan ke Om Hans.

Melihat hal ini Om Hans kaget...
"What ? I mean I want to buy one hair from your Moustache! not from down there,,!"

Si India dengan tenang menjawab "Sir, Top is Showroom... below is Store Room.."
 
 

Rabu, 23 Mei 2012

Pierre

Pierre sedang menunggui ibunya yang sakit.

Diluar jendelanya, ia melihat seseorang membawa poster yang mengabarkan bahwa seorang penyanyi hebat akan tampil menyanyi di depan umum malam itu.

“Andai aku bisa pergi..” kata Pierre. Sebab, Pierre sangatlah menyukai musik yang bisa menghibur hatinya.

Tapi tiba² matanya menjadi bersinar, dan ia berkata “Aku akan mencobanya!”

Setelah itu, ia mengendap & mengambil sebuah gulungan kertas & memandang ibunya yang sedang tidur. Ia pun segera berlari ke jalan & menuju apartemen sang penyanyi.

“Siapa yang sedang menungguku?” kata sang penyanyi pada pelayannya.

“Hanya seorang anak kecil lucu yang membawa gulungan kecil. Katanya Nyonya tak akan menyesal jika bertemu dengannya & ia tak akan menyita waktu Nyonya.”

“Baiklah, bawa dia ke sini. Aku tak bisa menolak anak²”. Kata sang penyanyi.

Pierre pun masuk ke apartemen megah tempat sang penyanyi berada dengan rasa takut. Ia pun memberanikan diri untuk berkata padanya.

“Aku datang menemui Nyonya karena ibuku sedang sakit & kami terlalu miskin untuk membeli makanan & obat. Jadi, seandainya Nyonya mau menyanyikan laguku di depan publik, mungkin ada orang yang mau membeli lagu tersebut sehingga aku bisa mendapat uang untuk membeli makanan & obat untuk ibuku”.

Sang penyanyi pun mengambil gulungan Pierre & melihatnya.

“Apakah kau yang mengarang lagu & menulis semua ini? Kau yang masih kecil?” Tanya sang penyanyi denagn kaget.

“Maukah kau datang ke konserku malam ini?”

“Oh, pasti aku ingin sekali, tapi aku tak bisa meninggalkan ibuku sendiri.” Jawab Pierre.

“Jangan khawatir, aku akan mengirim seseorang untuk menjaga ibumu. Ambillah uang ini untuk membeli makanan & obat. Dan ini ada sebuah tiket agar nanti kau bisa duduk di sebelahku.”

Pierre pun merasa senang akan kebaikan sang penyanyi tadi. Ia berjalan dengan gembira di sepanjang jalan, lalu membeli buah²an untuk ibunya. Ia pun menangis terharu & menceritakan kebaikan sang penyanyi pada ibunya.

Saat konser tiba, Pierre duduk di kursinya & merasa kagum dengan gemerlapnya lampu di panggung. Ia merasa tak percaya bahwa seorang penyanyi ternama mau menyanyikan lagunya.

Sang penyanyi pun naik ke panggung, dan mulai menyanyikan lagunya. Lagunya sangat indah, sehingga para penonton menitikkan air mata bahkan sebelum lagu itu selesai.

Pierre pun tertegun & sangat kagum. Ia takut kalau ia harus bangun karena ini hanyalah sebuah mimpi.

Tapi ini semua bukan mimpi. Ini kenyataan.

Di hari berikutnya, sang penyanyi mengunjungi Pierre dan ibunya di rumah. Ia pun membawa sebuah kabar gembira untuk mereka.

“Anak ibu telah memberi ibu keberuntungan. Tadi pagi, seseorang menawar untuk membeli lagu karangan anak ibu sebanyak 300 poundsterling. Dan setelah itu ia mendapat jumlah tertentu untuk penjualan lagu itu, Pierre akan mendapat royalti. Ibu harus bersyukur mempunyai anak seperti Pierre.”

Pierre & ibunya pun terharu, & langsung bersyukur pada Tuhan yang selalu ada & selalu menolong mereka di setiap keadaan, senang maupun susah.

Setelah kejadian itu, tahun-tahun pun berlalu.

Pierre tak pernah melupakan orang yang telah berbuat baik padanya. Ketika sang penyanyi telah berbaring tak berdaya di tempat tidurnya, seseorang yang selalu merawat dan menghiburnya di saat-saat terakhir tak lain adalah Pierre sendiri.